Brussels - Uni Eropa kini sudah memperbolehkan lagi beberapa maskapai penerbangan Indonesia melintas di langit Eropa. Sebelumnya, beberapa maskapai Indonesia dilarang untuk terbang ke kawasan Eropa karena seringnya mengalami kecelakaan.
"Perbaikan penting yang signifikan dari otoritas penerbangan sipil di Indonesia sudah dilakukan," ujar seorang pejabat Uni Eropa seperti dilansir dari AFP, Rabu (15/7/2009).
Empat maskapai yang boleh kembali melintas adalah Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Mandala Airlines dan Primer Air. Mereka diperbolehkan setelah memperbaiki standar keamanan penerbangan internasional.
Uni Eropa melarang beberapa maskapai penerbangan Indonesia akibat maraknya kecelakaan pesawat yang terjadi. Mulai dari hilangnya pesawat Adam Air di perairan Sulawesi, 1 Januari 2007 lalu hingga kecelakaan pesawat Garuda di tahun yang sama menewaskan 21 orang.
Selasa, 02 Februari 2010
Garuda Indonesia Kembali Bisa Terbang ke Eropa
Diposting oleh Wiratama Adi Nugraha di 18.02 0 komentar
Rabu, 20 Januari 2010
Lion Tambah 78 Pesawat Boeing 737-900 ER

Jakarta (ANTARA News) - Maskapai penerbangan swasta nasional, Lion Air, akan memesan sedikitnya 78 pesawat Boeing 737-900 ER untuk menggenapi jumlah armadanya menjadi 200 unit pesawat. Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, saat mintai konfirmasi mengenai hal itu di sela Pemasangan Satu Simulator Pesawat B 737-900 ER di Jakarta, Senin, membenarkan. "Memang benar itu (rencana penambahan pesawat, red) dan nota kesepahamannya akan ditandatangani dengan Boeing pada saat Singapura Air Show pada 19 Pebruari 2008," katanya.
Namun, Rusdi Kirana mengatakan "soal jumlah pesawatnya berapa, saya tidak mau buka dulu. Nanti saja di Singapura Air Show," katanya.
Sementara itu, sumber ANTARA menyebutkan, total pesawat B737-900ER Lion sebelumnya sebesar 122 pesawat hingga 2013 senilai 8,5 miliar dolar AS tidak akan cukup untuk kepentingan ekspansi regional.
Karena itu, maskapai yang berancang-ancang menjadi perusahaan penerbangan layanan penuh (full service) pada pertengahan tahun ini, perlu menambah sekitar 78 pesawat lagi.
"Jadi, genap menjadi 200 pesawat B737-900 ER," kata sumber itu.
Terkait dengan hal itu, Rusdi Kirana membenarkan bahwa tren open sky atau liberalisasi penerbangan dunia sudah mengarah kepada kompetisi yang ketat sehingga diperlukan sinergi antar maskapai.
"Maskapai baru sedang tumbuh di sejumlah negara, sementara naiknya harga minyak akan menjadi masalah. Karena itu, kebutuhan pesawat baru yang lebih efisien seperti B737-900ER, bukan lagi keniscayaan," kata Rusdi Kirana.
Untuk kepentingan itu, Lion Air telah memasang satu simulator pesawat B737-900ER yang juga bisa digunakan untuk uji kompetensi pesawat lain seperti B737-800NG di kawasan Bandara Mas. Tiga simulator lain akan dipasang dalam tiga tahun mendatang. Satu simulator seharga 12 juta dolar AS.
Kawasan tersebut seluas dua ha di dekat Bandara Soekarno-Hatta yang dilengkapi dengan asrama pramugari, bengkel pesawat dan tempat pelatihan kru.
Selain itu, lanjut Rusdi Kirana, Lion Air juga akan memfokuskan untuk kepentingan domestik hanya sekitar 60 pesawat, baik B737-900ER maupun tipe lainnya, baik berbadan lebar maupun sempit.
"Selebihnya untuk kepentingan ekspansi dan membentuk perusahaan penerbangan di negara lain. Ini sebuah kebanggaan tidak hanya pada Lion Air ,tetapi Indonesia sebagai sebuah negara," katanya.
Data Departemen Perhubungan pada 2006, sebagaimana pernah disampaikan Menhub Jusman Syafii Djamal, Lion dari sisi volume penumpang yang diangkut, adalah maskapai terbesar.
Jumlah penumpang 2006 untuk penerbangan domestik saat itu, tercatat 34 juta orang, sedangkan pada 2007 diperkirakan sekitar 37-38 juta orang atau tumbuh 20 persen per tahun.
Diposting oleh Wiratama Adi Nugraha di 09.07 0 komentar
Selasa, 19 Januari 2010
Garuda Indonesia Terbang tinggi kembali

Jakarta-MICOM Setelah sempat mengalami kerugian selama 3 tahun, Maskapai Garuda Indonesia perlahan mulai meraih keuntungan. Selama Januari hingga September 2007, PT Garuda Indonesia membukukan laba bersih 218 milyar rupiah. Menurut Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, pencapaian positif kinerja ini membuat Garuda optimis mampu meraih keuntungan sesuai target RUPS sebesar 45 milyar rupiah. Terlebih pada semester dua ini merupakan peak seasons, maka hingga akhir 2007 Garuda optimis mampu meningkatkan perolehan laba melebihi periode Januari sampai dengan September 2007. Selain meraih laba selama Januari sampai dengan September 2007, Garuda mampu meningkatkan arus kas masuk atau cash in flow sebesar 919 juta dolar atau meningkat 17 persen dibandingkan tahun lalu yang sekitar 786 juta dolar. Sementara itu dari sisi isian penumpang, Garuda berhasil meningkatkan load factor sebesar 10 persen dari 71 persen pada Januari sampai dengan September 2006 menjadi 78 persen pada tahun 2007. Sedangkan jumlah penumpang juga mengalami peningkatan tajam dari 5,6 juta orang pada tahun lalu, menjadi 6,1 juta orang pada tahun 2007 atau naik sebesar 9 persen. Begitu pula dengan jumlah produksi naik sekitar 1,19 persen dari 11,7 juta avilebal ship perkilometer menjadi 11,9 juta. Garuda juga berjanji untuk terus meningkatkan perfoma ketepatan jadwal penerbangannya.(dni/mi/04/08). (sumber : www.media-indonesia.com)
Diposting oleh Wiratama Adi Nugraha di 11.58 0 komentar
Garuda Indonesia Beli 10 Boeing 777 – 300ER

Pada perhelatan Singapore Air Show, Garuda Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian 10 pesawat berbadan lebar yang sangat canggih yaitu BOEING 777-300 ER(extended range). Kontak Pembelian tersebut ditandatangani pada hari Selasa 19 Febuari 2008 oleh Presiden & CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Vice President BOEING Commercial Airplanes, Ray Cornner.
Pada penandatanganan kontrak tersebut hadir pula Menteri Komunikasi RI, Jusman Syafii Djamal, Anggota Majelis Dewan RI, dan Ketua Board of Commissioners Garuda Indonesia, Hadiyanto.
Menurut Emirsyah Satar, proses ini merupakan bagian dari usaha Garuda Indonesia untuk meningkatkan bisnis dan servisnya, yang difokuskan pada pengembangan dan modernisasi armada penerbangannya. Hal ini mencerminkan pemahaman Garuda Indonesia terhadap pemenuhan permintaan konsumen yang terus meningkat.
Sebelumnya, Garuda Indonesia juga telah mengikat perjanjian untuk pembelian 50 BOEING 737 NG (next generation) yang akan digunakan untuk melayani jalur domestik dan regionalnya. Rencananya pesawat-pesawat ini akan siap pada tahun 2009.
BOEING 777-300 ER dan BOEING 737 NG merupakan pesawat modern yang miliki desain canggih, teknolgi termutakhir dan sangat efisien yang mana akan meberikan kenyamanan tiada tara bagi para pemumpangnya.
“Kehadiran pesawat-pesawat ini akan menambah kuat posisi Garuda Indonesia sebagai penyedia jasa penerbangan paling lengkap di Indonesia” komentar Emirsyah Satar.
Dengan adanya tambahan pesawat-pesawat ini yang dilengkapi dengan interior yang baru dan fres, Garuda Indonesia akan meluncurkan sebuah servis baru yang akan mempersembahkan keramahtamahan Indonesia sehingga membuatnya membuatnya menjadi pengalaman unik bagi para penumpang Garuda Indonesia.
Setiap tempat duduk yang terdapat di BOEING 737 NG untuk penerbangan domestik dan regional akan dilengkapi oleh TV personal, yang dapat menyediakan berbagai macam permainan.
Mengomentari desain baru dari BOEING 777-300 ER dan BOEING 737 NG, Ray Cornner menggarisbawahi bahwa kedua pesawat tersebut didukung oleh teknologi digital yang paling mutakhir. BOEING 777-300 ER menempati posisi puncak dari daftar pesawat-pesawat berkapasitas 300 – 400 penumpang. Pesawat ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan oleh maskapai-maskapai penerbangan kelas dunia karena hemat bahan bakar, ketangguhannya, dan ruang kabin yang besar untuk tambahan kenyamanan.
BOEING 777-300 ER dapat memuat 365 penumpang dan memiliki kecepatan hingga 0.84 mach. Selain itu pesawat ini juga dapat terbang tanpa henti selama 15 jam atau sejauh 14,685 km. Dengan pesawat ini, Garuda Indonesia dapat melakukan perjalanan tanpa henti dari Jakarta ke berbagai tujuan ke Eropa dan Amerika.
Memulai produksi pada tahun 2002, pesawat ini memiliki 2 twin engines, panjang keseluruhan mencapai 73,9 meter, tinggi 18,6 meter dan rentang sayap 64,8 meter. Pesawat ini pertama kali melakukan penerbangan nya pada tahun 2003 dan diserahterimakan kepada pembeli pertama pada tahun 2004.
Sementara itu, BOEING 737 NG memiliki “winglet” pada tiap sayapnya sehingga pemakaian bahan bakar untuk pesawat ini menjadi efisien, menambah jarak tempuh, mengurangi gas buang, dan menurukan level suara yang dihasilkan.
Diposting oleh Wiratama Adi Nugraha di 10.15 0 komentar